« Kembali

Merentangkan Benang Merah Sejarah Bahasa Jawa: Tidak Pernah Ada Bukti Empiris, Seribu Tahun Lalu Masyarakat Jawa Berbahasa Ngoko atau Krama

Tanggal : Rabu, 4 April 2018 Dilihat : 2650 kali

Para ahli bahasa menyatakan bahwa bahasa Jawa berasal dari bahasa Melayu kuno dan bahasa Jawa kuno (Kawi), kemudian berkembang menjadi bahasa Jawa seperti sekarang. Meskipun demikian, hal ini dipertanyakan Ki Sondong Mandali [Djoko Winarto, 11 Mei 1951−21 Oktober 2015)], penulis kawruh kejawen. Menurut Ki Sondong, andai masyarakat Jawa pada zaman kuno menggunakan bahasa Kawi (Jawa kuno), pastilah ada masyarakat di desa-desa terpencil sekarang ini yang masih menggunakan secara aktif. Kenyataannya, bahasa Kawi atau Jawa kuna malah tidak ada bekasnya sama sekali dalam pergaulan masyarakat. Seandainya ada perubahan, tentu tidak banyak. Semakin terpencil perdesaan di Jawa, bahasa Jawanya semakin medhok.

Bahasa pergaulan orang Jawa sejak zaman kuno hingga sekarang, tetap (ajeg) menggunakan bahasa Jawa yang sekarang. Masyarakat awam bergaul sehari-hari dengan bahasa Jawa ngoko atau krama. Setiap daerah punya bahasa dan dialek setempatnya masing-masing. Mungkin saja terdapat perbedaan, namun cenderung dalam hal perbendaharaan kata, karena sulit mengubah bahasa suatu bangsa yang dapat merata sampai di pelosok-pelosok.

Bahasa Kawi tidak digunakan sebagai bahasa sehari-hari masyarakat awam (kawula alit) Jawa, dan mereka tidak paham sama sekali dengan bahasa tersebut. Bahasa Sanskerta, Melayu kuno dan Kawi, digunakan sebagai lingua franca, artinya bahasa pergaulan antarnegara (kerajaan) di Nusantara. Bahasa tersebut merupakan bahasa ’elit’ (kalangan terbatas saja yang mempergunakan dan memahami), bahkan mungkin digunakan dalam lingkungan terbatas di kraton (bangsawan), atau terkait dengan keagamaan (brahmana).

Menanggapi pendapat Ki Sondong Mandali (Djoko Winarto) tersebut, bahwa bahasa pergaulan masyarakat Jawa sejak zaman kuno hingga sekarang, tetap (ajeg) menggunakan bahasa Jawa yang sekarang (ngoko atau krama), Paksi Raras Alit (pemerhati bahasa Jawa) menyatakan, terkait dengan pengajaran sejarah bahasa Jawa, bahwa selama belum ada bukti lisan (bukti fakta yang patut dan ilmiah), tidak dapat diambil suatu simpulan tentang penggunaan bahasa Jawa dalam percakapan pada zaman dahulu.

Bukti yang sekarang ditemukan adalah bukti tertulis (tulisan) dalam bahasa Jawa kuno dan Sanskerta. Boleh disebut bahwa bahasa Jawa kuno dan Sansekerta memang digunakan untuk kalangan tertentu, seperti bangsawan, dan brahmana. Sedangkan bukti verbal (terucapkan atau rekaman suara), yang menjelaskan bahwa dari dulu, misalnya, pada tahun 1500, atau 1000, masyarakat Jawa menggunakan bahasa ngoko atau kromo, tidak pernah ada bukti empiris. Tidak diketahui mengenai bahasa yang digunakan masyarakat Jawa pada waktu itu. Dengan demikian, diingatkan Paksi Raras Alit mengenai perlunya kehati-hatian terhadap pernyataan yang disampaikan kepada masyarakat, bahwa suatu pendapat tidak dapat dibenarkan tanpa bukti yang empiris atau hanya sebatas dugaan.

Dasar pernyataan Ki Sondong Mandali, dari teori berbahasa bahwa fungsi utama bahasa adalah sebagai wahana berkomunikasi, juga memiliki peran sebagai sarana mempertunjukkan (alat ekspresi) budaya yang mencerminkan bangsa penggunanya. Kecakapan berbahasa suatu bangsa adalah cerminan budaya bangsa yang terwujud dalam sikap berbahasa itu sendiri. Teori yang dimaksud adalah pengertian bahasa yang dirumuskan Panitia Perumus Kurikulum Bahasa Indonesia Departemen Pendidikan Nasional, untuk sekolah menengah kejuruan, pendidikan menengah kejuruan, pada 2003.(hen/ppsf)

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

12 Des 2018

Orang Jawa itu matematis, semua hal serba dihitung. Dalam bahasa Jawa, petung artinya menghitung. Seperti teori probabilitas (kemungkinan) pada matematika, bukan berarti semuanya mungkin, melainkan semuanya bisa dihitung, bahkan sampai pada tingkatan frak

...
12 Des 2018

Sesuatu yang luar biasa terjadi di Kedewaguruan Mahameru (Gunung Semeru). Awan melingkar menutupi puncaknya. Peristiwa ini disebut caping gunung atau gunung yang bertopi. Konon, pada saat peristiwa itu terjadi, para dewa dan arwah leluhur turun ke bumi.

10 Des 2018

Seperti halnya Lela Ledhung, semacam lagu ’nina bobo'-nya Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, setiap daerah di Indonesia memiliki lagu buaian untuk anak sebelum tidur, ungkap Agus ’Patub’ Budi Nugroho, dengan kekhasan melodi dan bahasa ma

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta